Mau Ganteng atau Tidak, Mau Cantik atau Tidak, Kalau Tidak Satu Frekuensi. Bagaimana?

Ilustrasi Pixabay

Salah satu kalimat yang didapat melalui pelajaran berharga dari kisah cinta Pak Habibie dan Ibu Ainun. Fisik sepertinya bukan salah satu indikator utama dalam mencintai seseorang. Karena bagaimanapun yang terpenting adalah hati. Kita satu pemikiran atau tidak. Kita satu frekuensi atau tidak. Lebih banyak mengalah atau menang sendiri. Lebih banyak meminta maaf atau mencaci. Saling menghargai dan mempercayai. Pasangan bukan sekedar ada tapi dia harus menjadi pelengkap yang ada.

Berjuang jika memang dia layak diperjuangkan. Bukan berjuang untuk lari dari kenyataan. Bukan berjuang untuk sama-sama saling melupakan karena terkikis keraguan. Seharusnya saling menguatkan seperti sebuah tali semakin kuat untuk mengikat menjadi satu.

Pasangan menerima apa adanya dalam semua kondisi bukan hanya selingan untuk mengisi. Pasangan yang abadi bukan tanpa konflik dan berjalan mulus seperti jalan tol. Adanya rasa saling. Saling memperjuangkan. Saling melengkapi. Dan saling berbagi tanpa ada sekat-sekat hirarki maupun materi. Hati tidak akan pernah bisa berdusta. Menyembunyikan rasa yang kentara. Jangan bertepuk sebelah tangan. Tapi berpegangan dalam satu ayunan.