Ngobrol Bareng Aktivis Tuli, Heri Koswara Ingatkan Keterbatasan Bukan Halangan Meraih Impian

LINGKARBEKASI.COM – Ketua DPD PKS Kota Bekasi, Heri Koswara bertemu dan berbincang-bincang dengan Panji Surya Putra Sahetapy, aktivis tuli di Indonesia, Selasa (23/11/2021). Dalam perbincangan dengan Surya, Heri mengaku banyak mendapat pembelajaran seputar pengalaman Surya kuliah di Amerika hingga perhatian pemerintah terhadap kaum tuli.

“Hari ini kedatangan seorang tamu yang istimewa. Meskipun tuli, tapi tidak merasa minder apalagi berputus asa bahkan beliau hari ini sedang menyelesaikan S2 di Amerika,” ujar Heri dalam siaran YouTube Podcast Bang HK.

Kepada Heri Koswara Surya Sahetapy bercerita bahwa kuliah di Amerika menyenangkan karena penerimaan pemerintah dan masyarakat terhadap kaum tuli sangat bagus. Surya mengaku awalnya dulu saat masuk ke SMP umum, sebelum akhirnya home schooling, ia merasa tidak percaya diri karena penerimaan lingkungan masih belum cukup bagus terhadap kaum tuli.

“Saya hidup sebelum itu malu menunjukan siapa saya. Karena lingkungan saya kurang mendukung.
Harus seperti orang dengar,” ujar Surya yang pada 2019 meraih cum laude di Institut Teknologi Rochester, New York.

Adapun awal mula Surya bisa menempuh pendidikan di Amerika karena memang ada keinginan kuat dalam dirinya untuk bisa kuliah di luar negeri meskipun tak punya kemampuan bahasa Inggris. Ia pun selama di tanah air bergabung dengan komunitas Tuli dan belajar bahasa Inggris selama dua tahun.

Surya juga sempat kuliah di salah satu universitas di Indonesia sebelum akhirnya mengambil cuti.
Bahkan Surya juga sempat magang di kantor gubernur Jakarta dan pada 2016 sebelum berangkat ke Amerika. Selama di tanah air Surya juga membuka kelas bahasa isyarat Indonesia (BISINDO) di beberapa kota di Indonesia.

Di Amerika Surya berkuliah di RIT
Institut Teknologi Rochester, National Technical Institute for the Deaf, Amerika Serikat. Ia meraih predikat cum laude dengan gelar diploma (D3) pada tahun 2019 jurusan Applied Liberal Arts, Yang berkonsentrasi pada Bahasa Isyarat dan Kajian Tuli. Surya pun menyelesaikan pendidikannya untuk meraih gelar sarjana (S1) Studi Internasional di institut yang sama dengan predikat Magna Cum Laude.

Mendengar kisah Surya, Heri mengatakan bahwa orang-orang di luar sana seharusnya bisa mengambil pelajaran bahwa keinginan yang kuat dan usaha yang optimal mampu membawa pada jalan kesuksesan.

“Sahabat bang HK dari sini kita belajar bahwa dalam keterbatasan kita bisa tingkatkan kepercayaan diri penuh semangat tidak malu, kalau anak-anak semua rekan-rekan yang normal kemudian malas belajar, maka menjadi hal yang sangat tidak pantas. Oleh karena itu pembelajaran yang pertama yang bisa kita ambil dari Kak Surya ini siapapun yang semangat walaupun dalam keterbatasan pasti akan diberikan kesuksesan oleh Allah subhanahu wa ta’ala,” imbuh Heri.

Saat ditanya soal keberpihakan pemerintah Amerika terhadap kaum tuli, atau kaum disabilitas pada umumnya Surya yang saat ini sedang menempuh kuliah Pendidikan Tuli menyatakan keberpihakan pemerintah di sana kepada kaum disabilitas sangat luar biasa, serba difasilitasi. Kalau di Indonesia, kata Surya, sepertinya kaum disabilitas masih ekslusif. Oleh karena itu ia mengambil pendidikan Tuli karena memiliki harapan besar ke depan.

“Saya berharap agar Indonesia ramah disabilitas. Sehingga masyarakat paham dan kaum disabilitas punya akses,” ucap putra dari aktor kawakan Ray Sahetapy dan Dewi Yull ini.

Menanggapi hal tersebut Heri Koswara menyatakan bahwa para orangtua yang memiliki anak disabilitas agar tidak malu tapi mendukung dengan memberikan pola pembelajaran yang tepat sehingga anak disabilitas tumbuh menjadi pribadi percaya diri dan mandiri.

“Kedua memang kita bukan mengecilkan negeri kita. Tapi Amerika luar biasa perhatiannya. Semoga para pemangku kebijakan memperhatikan dan memberikan kesempatan yang sama kepada kaum disabilitas,” tukas Heri.

Di dalam keluarga sendiri Surya mengaku ia bersyukur karena diterima dan ia bukan satu-satunya tuli. Dan bersyukur bahwa cara orangtuanya mendidik juga baik.

“Kalau masyarakat menerima, orangtua. Senang. Penerimaan orangtua juga berpengaruh pada kemajuan anak,” ujar Surya.

Terkait aspirasi kepada pemerintah Indonesia, Surya berharap ada perhatian yang lebih terhadap kaum disabilitas. Mulai dari undang-undang yang bisa menaungi, pembelajaran bahasa isyarat penambahan SDM atau guru-guru tuli atau guru untuk kaum disabilitas pada umumnya di sekolah-sekolah.

Ditanya soal politik, Surya mengaku bahwa dirinya tidak menutup diri dari hal tersebut karena untuk menyalurkan aspirasi, seharusnya di parlemen juga ada perwakilan kaum disabiltas. Sehingga lebih memahami persoalan.

Heri memuji pandangan Surya. Ia pun semakin berharap agar pemerintah mendengar aspirasi kaum disabiltas di tanah air.

“Kita mendapat pencerahan, tidak hanya teman-teman disabilitas tapi juga pemerintah yang mendengar mudah-mudahan ke depan semakin punya perhatian terhadap disabilitas,” tambah Heri.

Kepada para orangtua yang memiliki anak tuli, atau kondisi disabilitas lainnya, Surya berpesan agar mereka terus memberikan perhatian terhadap tumbuh kembang sang anak. (Dea)