YSQ Indonesia Terapkan Program Duta Tahfidz Quran di Ponpes ‘Ibadurrohman Tasikmalaya

LINGKARBEKASI.COM – Pondok Pesantren ‘Ibadurrahman Tasikmalaya bekerjasama dengan Yayasan Silsilah Quranuna Indonesia
memperkenalkan program ternyar Duta Tahfidz Quran (DTQ) untuk mencetak para penghafal quran 30 juz dengan metode unggulan besutan Silsilah Quranuna (SQ).

Project Officer Program DTQ Silsilah Quranuna, Amma Muliya Romadoni mengatakan metode SQ ini menggunakan pendekatan numerasi dan literasi.

“Pendekatan numerasi yang digunakan dengan menghafal kepala halaman (awal halaman), ayat dan baris beserta nomornya serta pola ayatnya. Sedangkan pendekatan literasi dengan penggunaan metode talaqqi serta berbasis penjelasan dengan bahasa inggris dan arab,” ujarnya saat dihubungi Selasa (1/2/2022).

Dalam program ini para santri juga diseleksi secara ketat melalui wawancara serta minimal mereka telah memiliki modal hafalan 10 juz dan diutamakan telah mengantongi izin orang tua atau wali santri.

“Dalam waktu minimal 1 tahun para santri dari kelas 10 sampai kelas 12 yang berminat mengikut program ini harus memiliki hafalan minimal 10 juz untuk bisa lolos dengan mengikuti beberapa tahapan seleksi lainnya,” ujar Amma Muliya Romadoni pria kelahiran Jakarta Alumnus S2 ITB Fakultas Teknik Mesin Dirgantara tahun 2019.

Saat ini, kata Amma, santri yang telah lolos seleksi menjadi santri DTQ di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran (PPTQ) ‘Ibadurrohman Tasikmalaya berjumlah 19 orang dari kelas X sampai XII tahun ini.

Lebih lanjut, Amma menjelaskan Proses penjaringan dipersiapkan sedemikian rupa dengan melibatkan santri kelas atas untuk mengajarkan adik-adik kelasnya.

“Untuk mempersiapkan kader ini kita sudah dicoba santri senior dalam hal ini kelas 10-12 untuk mengajar juniornya untuk uji coba mengajar kelas 7,” kata Amma.

Tujuannya untuk regenerasi dan memperkuat basis Sumber Daya Manusia (SDM) di PPTQ ‘Ibadurrahman sehingga diharapkan ke depan tidak perlu mengambil tenaga pengajar dari luar Pondok Pesantren.

“Sebenarnya kita sedang membangun regenerasi sekaligus untuk memperkuat potensi SDM yang ada. Melalui pemberdayaan santri dan memberikan kesempatan untuk belajar bagaimana mempelajari dan mengajarkan Alquran. Ini kita dorong mereka untuk bisa. Karena itu SDM di sini diberdayakan,” imbuhnya.

Selain melatih hafalan Qur’an, program tambahan lainnya antara lain pendalaman mata pelajaran secara khusus, upgrading kemampuan Bahasa Inggris dengan TOEFL, academic writing dan memanfaatkan media sosial untuk aktualisasi diri sebagai santri DTQ.

DTQ sendiri merupakan
program yang dirancang oleh Yayasan Silsilah Quranuna Indonesia sejak November 2021 lalu untuk membantu sistem program tahfidz di beberapa pondok pesantren diwilayah Priangan Timur (Garut, Tasik, Ciamis dan Banjar) selain juga mempersiapkan para santri hafidz quran.

“Untuk Pengkaderan dan membuat variasi dan program duta tahfidz, DTQ Ponpes Ibadurrahman ini pilot project pertama. Insya Allah akan diduplikasi ke beberapa Ponpes di kawasan Priangan Timur. Kita sudah jalin kerjasama dengan beberapa Ponpes,” imbuhnya.

Untuk DTQ sendiri target utamanya setahun bisa hafal 30 juz. Sementara untuk program reguler dari PPTQ Ibadurohman sendiri, persemester santri hanya ditarget 1 juz. “Ini kan program setahun. Targetnya setahun 30 juz. Program reguler sendiri cuma satu semester 1 juz. Khusus santri. Khusus Duta Tahfidz setahun 30 juz,” katanya.

“Jadi di duta Tahfidz mereka belajar dari jam 8 sampai siang. Jadi kita siasati akademiknya. Kelas 12 kita bahas soal PTN. Untuk kelas 10-11 waktu belajar mandiri. Siang hari untuk mereview pembelajaran yang kita dapatkan dari automatic system. Guru-guru me-list di Gform pelajaran yang diajarkan. Nanti apa saja yang dipelajari, santri mereview di siang hari atau di waktu asrama,” tambahnya.

Waktu Kegiatan Belajar Mengajar dilaksanakan sampai pukul 14.30 WIB, sementara Proses Tahfidz sampai Dzuhur. Setelah Dzuhur persiapan pembelajaran akademik.

“Makanya kita gulirkan beberapa program tambahan untuk menunjang akademik,” ucapnya.

Terkait metode Silsilah Quranuna ini, kata Amma, respons para santri sangat antusias. Karena SQ menggabungkan literasi dan numerasi.

“Anak-anak terlatih skill dan critical thinking-nya. Muatannya numerasi (logical) Literasi (bahasa),” ujarnya.

Dalam proses menghafal Quran sendiri, aplikasinya menghafal kepala halaman, ayat dan hafal perbaris beserta nomornya.

Program SQ bahasa inggris dan arab juga termuat sehingga bagi mereka program DTQ ini ‘Challenge’ dan semakin antusias karena suatu hal baru dan belum pernah mendapatkannya. (Denis)