Manaqib Syekh KH. Muchtar Thabrani Kaliabang Nangka

Foto; laduni.id

MANAQIB
SYEKH KH. MUCHTAR THABRANI
KALIABANG NANGKA

Disusun Oleh:

1. H. Ahmad Ushtuchri, SE (Anggota DPRD Kota Bekasi/Pengasuh Pondok
Pesantren Annur Kota Bekasi)
2. Ahmad Maulana Mursyid, SHI, MH, MM (Alumni Pondok Pesantren
Annur/Dosen Universitas Bhayangkara Jakarta Raya dan Universitas Satya
Negara Indonesia Jakarta)
Rasulullah Saw Bersabda:
“Dzikrush shòlihìn kaffàrotun ‘anidz dzunùbi wa ‘ingda dzikrish shòlihìna tangzulur rohmatu
wa tahshulul barokatu.”
Artinya: “Mengingat-ingat orang yang shalih dapat menjadi kifarat untuk menebus dosa. Dan
ketika sedang dalam kondisi mengingat-ingat orang yang shalih tersebut, maka diturunkan
oleh Allah Swt rahmat, serta dapat menghasilkan barokah”. (HR.Ahmad-Thobroni).

1. MANQOBAH PERTAMA:
NASAB/KETURUNAN SYEKH KH. MUCHTAR THABRANI
Syekh KH. Muchtar Thabrani dilahirkan pada tahun 1901 di Kaliabang Nangka Bekasi,
ayahnya bernama: Thabrani, putra Nirun, putra Muhammad Syukri, berasal dari Banten
dan kemudian menetap di Kaliabang Nangka bekasi untuk berdakwah.
2. MANQOBAH KEDUA:
KECERDASAN SYEKH KH. MUCHTAR THABRANI DALAM MENUNTUT
ILMU
Syekh KH. Muchtar Thabrani dalam menuntut ilmu berusaha mencari guru-guru yang
sudah pakar dalam ilmunya. Beliau mempelajari serta memperdalam bermacam-macam
disiplin ilmu diantaranya disiplin ilmu Al-Qur’an dan ilmu agama lainnya.
Seluruh gurunya mengungkapkan tentang kecerdasan nya. Beliau belajar ilmu Al-Quran
dari Guru Mughni dilanjutkan belajar pada Guru Marzuki Cipinang Muara.
Terbersit di hatinya untuk berangkat ke tanah suci guna melaksanakan rukun Islam yang
kelima. Keinginan itu tak langsung begitu saja terwujud. Muchtar membutuhkan waktu
enam tahun untuk mengumpulkan uang sebesar tiga ribu enam ratus rupiah untuk ongkos
berangkat haji yang saat itu masih menggunakan kapal laut.
Disela niatnya untuk melaksanakan haji Muchtar memang sudah berniat untuk tidak
kembali secepatnya ke tanah air. Pasalnya, karena Muchtar ingin lebih memperdalam ilmu
agama di tanah suci. Tentang rencananya itu, Muchtar tidak memberi tahu semua anggota

keluarganya. Bahkan ayahnya pun tidak diberitahu, kecuali Abdurrazzaq, adik
kandungnya.
Selama menimba ilmu di tanah suci, Muchtar kerap berhadapan dengan kondisi
perekonomian yang cukup memprihatinkan. Terlebih Muchtar memang tidak mendapat
kiriman bekal dari keluarga di tanah air. Namun semangatnya untuk belajar tidak pernah
surut sedikit pun, hingga menjelang 13 tahun lamanya Muchtar belajar di tanah suci.
Satu cerita, Muchtar melakukan ibadah thawaf di Ka’bah Baitullah sambil menghapal AlQur’an dan berdo’a, ketika telah selesai dan lelah beliau pun beristirahat dan tertidur
dengan kepala beralas sorban. Setelah beliau bangun, di bawah sorban beliau terdapat
uang. Kejadian tersebut terjadi berulang kali. Rupanya rizki itu datang dari para dermawan
yang tidak mau diketahui identitasnya, para dermawan ini sengaja meletakan uang tersebut
ketika orang sedang tertidur, tetapi tentu saja hanya orang-orang tertentu yang dipilih oleh
para dermawan ini, hanya orang-orang dengan kadar Muthathowi’ (orang sholeh) saja
uang tersebut diberikan. Jika dermawan ini bisa membedakan orang-orang yang
Muthathowi’ atau bukan tentu saja para dermawan ini bukan orang sembarangan, mereka
sebenarnya adalah para dermawan yang juga seorang ulama yang berilmu tinggi.
Di tanah suci Muchtar menimba ilmu kepada beberapa orang guru, yaitu Syeikh Muchtar
At-Atharied, Syeikh Ahyad, Syeikh Ali Al Maliki dan beberapa orang guru lainnya.
Namun guru yang paling dekat dan paling banyak mempengaruhi pola pikir dan
perkembangan keilmuannya adalah Syeikh Ahyad.
Setelah kurang lebih 13 tahun menuntut ilmu di tanah suci, Muchtar pun memutuskan
untuk kembali ke tanah air setelah mendapat restu dari guru-gurunya. Di saat perjalanan
pulang menuju tanah air, ketika beliau masih di dalam kapal laut, Muchtar menerima
kabar bahwa ayahnya Pak Thabrani telah berpulang menghadap Allah Swt.
3. MANQOBAH KETIGA:
DAKWAH PERTAMA SYEKH KH. MUCHTAR THABRANI
Setelah memiliki pengetahuan yang cukup memadai, Muchtar kembali ke kampung
halamannya untuk mengabdikan ilmu dan memulai perjalanan dakwah di kampungnya
yang saat itu masih kental dan sarat dengan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran
agama Islam.
Pada saat usianya menjelang 20 tahun, Muchtar telah menjadi tokoh pemuda yang paling
disegani di kampungnya. Muchtar telah berhasil merubah dan meluruskan masyarakat
Kaliabang Nangka dari pola hidup yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Ketika itu Kaliabang Nangka masih sangat akrab dengan pengaruh kepercayaan animisme
dan dinamisme. Persembahan untuk makhluk halus dan percaya bahwa benda-benda mati
mempunyai kekuatan ghaib dan dapat menolong manusia, bukan merupakan
pemandangan yang aneh saat itu

Muchtar terpanggil untuk membenahi aqidah orang kampungnya, yang sudah semakin
jauh dari ajaran Islam yang benar. Sedikit demi sedikit Muchtar mulai merubah pola hidup
keagamaan di kampungnya.
4. MANQOBAH KE EMPAT:
DAKWAH KEDUA SYEKH KH. MUCHTAR THABRANI
Kaliabang Nangka, tahun 1950, Muchtar tiba di tanah air disambut sanak keluarga,
sahabat, dan masyarakat di kampungnya. Kondisi di tanah air pada saat itu telah berada
pada keadaan berdaulat. Sehingga Muchtar dapat kembali ke tanah air tanpa ada rintangan
apapun di jalan. Dengan oleh-oleh sejumlah kitab yang dipikul oleh dua orang pembantu
dan bekal ilmu yang telah meresap pada dirinya, Muchtar tiba di kampungnya, Kaliabang
Nangka.
Belum sempat Muchtar beristirahat, Guru Tohir, paman beliau memanggilnya dan
meminta Muchtar untuk membaca oleh-oleh kitab yang dibawanya dari tanah suci.
Rupanya paman beliau ingin menguji kemampuan Muchtar yang selama urang lebih 13
tahun telah menimba ilmu di tanah suci. Muchtar pun menurut dan mulai membaca kitabkitab tersebut dengan lancar, fasih disertai dengan penjelasan yang cukup baik. Melihat
kepandaian keponakannya itu, Guru Tohir, sanak keluarga, sahabat dan masyarakat yang
turut menyaksikan kejadian itu tak sanggup lagi menahan haru dan menitikan airmata.
Sesaat kemudian bergemalah kalimat takbir… ALLAHU AKBAR!!! dari orang-orang
yang hadir saat itu.
Sepanjang perjalanan perjuangan dakwah Syekh KH. Muchtar Thabrani di tanah air, dari
tahun ke tahun murid-murid yang ingin belajar kepada beliau kian bertambah banyak, dari
usia anak-anak, remaja, bahkan dewasa. Mengingat banyaknya murid yang ingin belajar,
beliau pun dibantu oleh beberapa murid senior dari hasil didikan beliau yang diangkat
menjadi staf pengajar.
Suatu hari berkumpulah beberapa orang murid senior Syekh KH. Muchtar Thabrani,
diantaranya KH. Alawi, KH. Asmawi, KH. Anwar, KH. Abdullah, Guru Asmat dan Guru
Jenih. Dari hasil musyawarah keenam murid senior yang merupakan staf pengajar
tersebut, tercapailah sebuah kesepakatan bahwa seluruh santri yang mengaji pada keenam
staf pengajar tersebut akan diseleksi secara khusus. Bagi santri yang lulus seleksi, maka
santri tersebut dapat mengaji dibawah bimbingan langsung Syekh KH. Muchtar Thabrani.
Maka terpilihlah sekitar 20 orang santri (angkatan pertama) yang berhak mengaji langsung
pada Syekh KH. Muchtar Thabrani. Sementara santri-santri yang lain, yang masih tingkat
dasar mengaji pada keenam staf pengajar tadi.
Di tahun 1951, Syekh KH. Muchtar Thabrani mendirikan sebuah Pondok Pesantren yang
diberi nama “Pondok Pesantren Kaliabang Nangka” yang diambil dari nama kampungnya
tersebut. Pondok Pesantren inlah yang nantinya menjadi cikal bakal berdirnya Pondok
Pesantren “Annur” yang dikenal sekarang

5. MANQOBAH KELIMA:
PERNIKAHAN SYEKH KH. MUCHTAR THABRANI
Tahun 1950, Syekh KH. Muchtar yang telah berusia sekitar 41 tahun menikah dengan Hj.
Ni’mah Ismail gadis berusia 14 tahun anak dari Guru H. Ismail Tanah Rendah Jakarta.
Ketika itu beliau meminta dua orang sahabatnya, KH. Nur Ali (Ujung Harapan) dan KH.
Tambih (Kranji) yang membantu dalam proses lamaran hingga acara pernikahan. Dari
pernikahan ini beliau dikaruniai 4 putra dan 3 putri, yaitu: (Almagh) KH. Aminuddin
Muchtar, (Almagh) KH. Aminulloh Muchtar BA, KH. Ishomuddin Muchtar Lc, (Almagh)
KH. Ishomulloh Muchtar M.Ed, Ustj. Dr. Hj. Hannanah Muchtar MA, Ustj. Hj.
Nurhamnah Muchtar Lc, dan Ustj. Yayah Inayatillah Muchtar SH.
6. MANQOBAH KE ENAM:
PENGAJARAN SYEKH KH. MUCHTAR THABRANI
Syekh KH. Muchtar Thabrani biasa mengajar santri-santrinya sambil bekerja di kebun.
Santri membaca kitab sementara beliau menyimak bacaan santri sambil menyabuti rumput
liar yang tumbuh di kebun kangkung, cengkeh dan jeruk miliknya. Disamping
mengajarkan ilmu agama kepada para santri, beliau juga mengajarkan para santri
keterampilan hidup seperti mengelola hasil tanam di kebun sebagai tambahan penghasilan.
Jika panen tiba, santri-santrinyalah yang membawa hasil panen tersebut ke pasar.
Selama mengajar santrinya, Syekh KH. Muchtar Thabrani dikenal cukup tegas dan keras.
Hal itu sebagai bentuk gemblengan agar para santri belajar dengan sungguh-sungguh dan
tekun. Namun, ada saja santri yang akhirnya putus dijalan karena kurang sungguhsungguh dan mentalnya yang loyo. Dari 20 orang santri angkatan pertama yang mengaji
pada beliau, kini tinggal sekitar 10 orang santri yang betul-betul tekun mengaji hingga
tuntas dan mendapat ijazah dari beliau. Dan terbukti, santri-santri yang benar-benar tekun
mengaji pada beliau kini telah meneruskan perjuangan beliau dan telah banyak mendirikan
Pondok Pesantren, madrasah dan majlis ta’lim. Diantaranya KH. Asmawi Bulak Sentul,
KH. Mughni Rawa Bugel, KH. Alawi dan lain-lain.
Angkatan selanjutnya, termasuk di dalamnya putra-putri beliau, Syekh KH. Muchtar
Thabrani tetap konsisten dengan sikap tegas dan kerasnya di dalam mengajar. Boleh jadi,
putra-putri beliau yang saat itu masih kecil-kecil telah dapat menghapal Al-Qur’an
sebanyak 30 juz. Sehingga semua putra-putri beliau kini berhasil menjadi orang-orang
yang ‘alim, orang yang memiliki ilmu yang tinggi dan meneruskan perjuangan beliau.
Diantaranya yaitu (Almagh) KH. Aminuddin Muchtar, (Almagh) KH. Aminulloh Muchtar
BA, KH. Ishomuddin Muchtar Lc, (Almagh) KH. Ishomulloh Muchtar M.Ed, Ustj. Dr. Hj.
Hannanah Muchtar MA, Ustj. Hj. Nurhamnah Muchtar Lc, dan Ustj. Yayah Inayatillah
Muchtar, SH.

7. MANQOBAH KE TUJUH:
KEPRIBADIAN DAN BUDI PEKERTI SYEKH KH. MUCHTAR THABRANI
Beberapa hal yang tak pernah lepas dari Syekh KH. Muchtar Thabrani adalah, beliau tidak
pernah sedikitpun lepas dari ikat sorbannya. Pada saat mengajar ataupun saat keluar dari
rumahnya, beliau selalu terlihat dengan ciri khasnya itu. Beliau juga orang yang sangat
penyayang pada bintang. Pada saat beliau hendak menaiki becak yang menjemput beliau,
ada satu semut terlihat berada di jok becak itu. Beliau lalu mengambil semut itu dan
memindahkannya di batang pohon, setelah itu barulah beliau menaiki becak tersebut.
Beliau juga orang yang dikenal tak pernah lepas dari salam dan doanya bila berjumpa
dengan orang, kendati kepada anak kecil sekalipun.
Beliau selalu berucap,
“Assalamu’alaikum ….. mudah-mudahan barokah…”
Syekh KH. Muchtar Thabrani juga dikenal dengan orang yang gemar berderma, padahal
beliau sendiri adalah orang yang hidupnya sangat sederhana. Saking dermawannya beliau,
banyak orang yang malah memanfaatkan kedermawanannya itu demi kepentingan pribadi.
8. MANQOBAH KE DELAPAN:
KEISTIMEWAAN SYEKH KH. MUCHTAR THABRANI
Suatu ketika seorang pedagang tempayan yang sedang memikul dagangannya bertemu
dengan Syekh KH. Muchtar Thabrani, saat itu juga Syekh KH. Muchtar Thabrani pun
memberi salam kepadanya, “Assalamu’alaikum … mudah-muudahan barokah…”. Tidak
berapa lama setelah perjumpaan itu, barang dagangan yang dipikulnya itu tiba-tiba saja
habis terjual tidak seperti hari-hari biasanya.
Tetapi satu hari pedagang tersebut tidak menjumpai Syekh KH. Muchtar Thabrani, dan
anehnya penjualan barang dagangannya tidak selaris hari kemarin. Karena penasaran,
esoknya pedagang ini pun berangkat pagi-pagi sekali menuju kediaman Syekh KH.
Muchtar, dengan harapan berjumpa dengan sang Kiyai dan mendapat ucapan salam dan
doa berkah dari beliau. Pedagang ini pun berdiri di depan kediaman Kiyai, menunggu
Kiyai keluar dari rumahnya. Tidak lama keluarlah Syekh KH. Muchtar Thabrani dari
rumahnya. Melihat ada seorang tamu berdiri di depan rumahnya, Syekh KH. Muchtar
Thabrani memberi salam kepadanya, dengan ucapan seperti biasanya, “Assalamu’alaikum
… mudah-muudahan barokah…” lalu mengajak tamu tersebut untuk masuk ke dalam
rumahnya. Tetapi pedagang itu menolak dengan halus, dan mengatakan bahwa ia hendak
berangkat keliling kampung untuk menjual barang dagangannya. Tak lama setelah itu, tak
disangka barang dagangannya pun habis terjual dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Begitulah karomah ucapan salam beliau.
Lain lagi dengan seorang kaya yang juga murid Syekh KH. Muchtar Thabrani, setiap satu
bulan sekali orang tersebut selalu menyediakan dua buah amplop berisi isi uang. Niatnya,
amplop yang isinya lebih besar akan diberikan untuk istri mudanya, sedangkan amplop
yang isinya lebih kecil akan diberikan pada Syekh KH. Muchtar Thabrani. Ketika orang
tersebut menemui Syekh KH. Muchtar Thabrani, justru malah amplop yang isinya lebih

besarlah yang diberikan kepada Syekh KH. Muchtar Thabrani. Sementara amplop yang
isinya lebih kecil malah diberikan pada istri mudanya. Kejadian itu terjadi berkali-kali,
padahal niat awalnya tidak demikian.
Satu saat beliau pulang mengajar dari satu tempat bernama Kelapa Gading, di tengah
perjalan pulang dari kejauhan beliau dihadang segerombolan prampok yang meminta
seluruh harta bawaan beliau. Namun beliau tetap tenang dan mengucapkan salam kepada
segerombolan prampok tersebut. Para perampok itu pun menjawab salam beliau, dan
anehnya tangan mereka seketika bergetar ketika Syekh KH. Muchtar Thabrani
membagikan pisang kepada segerombolan perampok itu. Setelah itu Syekh KH. Muchtar
Thabrani pergi meninggalkan mereka, dan anehnya tak satupun dari gerombolan prampok
itu bisa menggerakan kakinya, semua hanya diam terpaku melihat beliau pergi. Syekh KH.
Muchtar Thabrani pun melanjutkan perjalanan pulang dengan lenggang kangkung.
Begitulah kehebatan dan keistimewaan salam.
Begitu banyak keistimewaan yang ada pada diri Syekh KH. Muchtar Thabrani, sampaisampai ada satu orang laki-laki yang menderita impoten pun menemui beliau dan meminta
didoakan agar penyakit impotennya dapat sembuh. Saat itu Syekh KH. Muchtar Thabrani
hanya menyuruh orang tersebut mengamalkan bacaan “Ya Qowwiy, Ya Matin”. Satu
minggu kemudian orang tersebut datang lagi, mengabarkan bahwa penyakitnya sudah
sembuh.
“Terima kasih Pak Kiyai, saya sudah sembuh”
“Syukurlah, coba amalkan juga bacaan Ya Latief…” kata Pak Kiyai.
Setelah itu, orang tersebut tidak datang lagi.
9. MANQOBAH KE SEMBILAN:
KARYA SYEKH KH. MUCHTAR THABRANI
Beberapa karya yang sempat beliau tulis adalah: “Targhiib Al-Ikhwan fii fadhillah
‘ibaadaati Rajab wa sya’baan wa Ramadhaan, Tanbiih Al-Ghafiil fii At-Taththawu’aat wa
Al-‘ibaadaat wa An-Nawaafil, Da’watul Ummah Ila Mahabbati Ali An-Nubuuwati, Is’aful
ghofiliin Al Mutkhayiriin Wa At- Tholibiin dan lain-lain.
10. MANQOBAH KE SEPULUH:
KEWAFATAN SYEKH KH. MUCHTAR THABRANI
Sekian tahun sudah Syekh KH. Muchtar Thabrani mengajar, dan telah memiliki banyak
murid yang tersebar diberbagai pelosok, akhirnya, tiba waktunya bagi beliau beristirahat
untuk selama-lamanya. Pada Tahun 1971, beliau wafat dengan penyakit kanker di leher.
Sebelum wafat, beliau sempat mengumpulkan putra-putrinya untuk membaca surat yasin.
Surat yasin selesai, dilanjutkan surat tabarok (Al-Mulk), setelah selesai beliau meminta
putra-putrinya untuk mencium tangannya satu-persatu. Saat ciuman terakhir putrinya,
beliau pun wafat dengan wajah berseri-seri.
Setelah kewafatannya, murid-murid, sahabat, maupun orang yang hanya mendengar ke’aliman beliau datang dari berbagai daerah guna berziarah ke makam beliau dan berdoa.
Kini Pondok Pesantren yang pernah beliau rintis, yang sekarang menjadi Pondok
Pesantren Annur tetap teguh berdiri dalam memperjuangkan dakwah Islam, guna
membentuk kader-kader Kiyai yang berwawasan Intelektual; Intelektual yang berwawasan
Kiyai.
Sebagai penghormatan dan penghargaan masyarakat atas perjuangan dakwah beliau, nama
Syekh KH. Muchtar Thabrani pun diabadikan sebagai nama jalan di Kaliabang Nangka
Bekasi Utara.