Halal Bihalal Kanzus Sholawat, Ushtuchri Ajak Tingkatkan Amal Pasca Ramadan, Jaga Persatuan NKRI

LINGKARBEKASI.COM – Kanzus Sholawat Kota Bekasi menyelenggarakan pengajian bulanan sekaligus halal bihalal dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriyah.

Dalam kesempatan itu pimpinan Pondok Pesantren Annur, H. Ahmad Ushtuchri memberikan tausiyahnya terkait tiga ciri orang yang mendapatkan predikat kemenangan ramadan dalam perspektif Al-Quran.

“Ada 3 ciri khas orang yang berhak dikatakan menang dan kembali fitri, itu adalah orang-orang yang yunfikuna fi syarroi waddhorro, menginfakkan hartanya di jalan Allah pada saat lapang maupun sempit. Jadi orang yang lulus puasanya pasti akan lebih dermawan,” ujarnya.

“Kedua, wal kadzibina ghoidzo dia mampu mengendalikan amarahnya artinya pengendalian dirinya pasti lebih baik,” tambah Ushtuchri.

“Ketiga, wal aafina aninnaas. Sudah dermawan, pengendalian dirinya baik ditambah dia punya hati yang luas yang selalu memaafkan kesalahan orang lain,” imbuhnya melanjutkan.

Pimpinan Ponpes An-Nur itu juga menjabarkan, bahwa Allah swt mencintai orang-orang yang berbuat baik.

“Intinya pada halal bihalal ini selain kita bersyukur sudah menjalankan ibadah ramadan 30 hari kemarin berharap semua amal ibadah kita diterima Allah dan berbuah pahala dan diampuninya dosa-dosa kita,” ungkap tokoh Bekasi Utara tersebut.

Ushtuchri juga mengajak agar majelis Kanzus Sholawat ini bisa terus berkembang dapat memberikan warna juga syiar dalam dakwah islam khususnya islam rahmatan lil alamin yang selalu diusung oleh Maulana Habib Luthfi Bin Yahya.

Majelis Kanzus Sholawat yang dipimpin langsung oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya yang berpusat di Pekalongan. Adapun yang berlokasi di Ponpes Annur Bekasi Utara merupakan cabang dari Pekalongan.

Agenda yang dihadiri oleh para alim ulama dari seluruh penjuru Kota Bekasi ini diantaranya dihadiri pula oleh para pengurus Jatman Kota Bekasi yang juga pengurus dari Jatman-jatman se-kecamatan diseluruh Kota Bekasi, juga termasuk yang hadir pula para pengurus majelis taklim Daarul Hasyimi Kota Bekasi yang merupakan pimpinan langsung dari Habib Baharuddin bin Habib bin Yahya atau putra sulung beliau.

Majelis Kanzus Sholawat di Kota Bekasi didirikan pada Oktober tahun lalu sebagai perintah langsung dari Maulana Habib Luthfi Bin Yahya bersamaan ketika meresmikan UREKA Mart pertama se Indonesia yang berlolokasi di Pondok Pesantren An Nur.

Dalam agenda tersebut dilangsungkan acara pelafalan dzikir khususnya ratibul kubro, dzikir kanzus sholawat dilanjutkan dengan pengajian taklim ilmu fiqih fathul qorib yang diasuh oleh ustadz Mumtadz dan juga adabul muridin (adab para pencari ilmu) yang diasuh langsung oleh K.H. Sofyan Junaedi Nur.

Taklim Kanzus Sholawat dalam misinya selain menghidupkan sholawat namun juga mejadi pusat dzikir dan taklim dan tentu sebagai bagian dari upaya merekatkan dan mengokohkan NKRI sebagaimana yang dicontohkan oleh Maulana Habib Luthfi Bin Yahya yang selalu menekankan pentingnya Hubbul Wathon yang merupakan bagian dari iman dan implementasi keislaman yang kemudian diejawantahkan dalam kecintaan kepada tanah air dan merupakan warisan dari para pejuang dari alim ulama terdahulu.

“Tentu ini menjadi penting mengingat dalam pergaulan global saat ini identitas bangsa menjadi sebuah krusial apalagi hari ini kita memperingari Hari Kebangkitan Nasional,” kata Legislator Kota Bekasi ini.

Selanjutnya, dalam halal bihalal ini pula sebagai bagian dari menjaga tradisi muslim Indonesia yang diinisiasi oleh K.H. Abdul Wahab Hasbullah pendiri Nahdlatul Ulama ketika tahun 1948 Bung Karno ‘kebingungan’ banyak elit politik yang bertikai baik visi dan misi serta cara padang bangsa sehingga menimbulkan efek dan gesekan psikologis.

Dalam kebingungan itu Bung Karno berkonsultasi kepada para Kyai yang kemudian mengusulkan forum halal bihalal untuk saling menghalalkan, lawan dari haram jadi menghalalkan kesalahan atau memaafkan satu sama lainnya yang dalam bahasa arab ‘halla yuhillu hallan’ yang maknanya adalah mengurai, membuka ikatan, membuka kebuntuan, menyambungkan yang terputus. (Denis)