Bapilu PAN: Sepuluh Tahun Terakhir Kepemimpinan Kota Bekasi Punya Rekam Jejak Kurang Bagus

LINGKARBEKASI.COM – Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPD Partai Amanah Nasional (PAN) kota Bekasi, Afrizal menyatakan dalam 10 tahun terakhir kota Bekasi punya rekam jejak yang kurang baik dalam kepemimpinan kepala daerahnya. Hal itu ia katakan dalam acara diskusi publik bertajuk “Membangun Kepemimpinan Patriot” yang digelar Komunitas Media Online Indonesia (Komodo) di Balelo Food Garden, Margahayu, Bekasi Timur, kota Bekasi, Jum’at (10/6/2022).

“Hadirnya kita pada diskusi publik ini niatnya sama sama membangun kepemimpinan patriot di kota Bekasi maupun secara nasional. Kami dari DPD PAN kota Bekasi menyambut dan mengapresiasi ide dan gagasan tema membangun kepemimpinan patriot ini. Bagi saya hari ini merupakan cikal bakal bagi kita semua untuk membangun kepemimpinan kota Bekasi yang lebih baik di masa mendatang,” ujarnya dalam paparannya.

Menurutnya, membangun kepemimpinan patriot tidak bisa sendirian namun harus bersama-sama. Membangun kepemimpinan ini sejatinya menjadi tugas partai politik ataupun tugas dari penyelenggara pemilu baik KPU maupun Bawaslu serta dibantu tentunya oleh peran media online yang sangat cepat dalam penyebaran informasi.

Membangun kepemimpinan, kata Afrizal tidak bisa muncul dengan sendirinya. Dalam konteks wali kota ada syarat dan proses. Jangan sampai kita ingin mencari pemimpin yang andal tapi tidak tahu prosesnya bagaimana pemimpin itu bisa muncul.

Syarat untuk mencalonkan wali kota adalah partai politik harus mempunyai 20 persen dari 50 kursi di DPRD. Proses ini, kata dia, harus diinformasikan oleh KPU, partai politik dan media karena rusaknya Pilkada karena tidak tahu prosesnya.

Terkait dengan tahapan penjaringan calon kepala daerah, DPD PAN akan menggelar Rakerda di hotel Merbabu pada 26 Juni yang akan memutuskan agenda nasional calon presiden yang diusulkan DPD PAN kota Bekasi.

“DPD PAN kota Bekasi mengusung capres siapa? Agenda kedua, cabang dan ranting mengusulkan calon wali kota. Di sini kita mulai proses penjaringan dan kita akan sampaikan kepada masyarakat melalui polling biar masyarakat yang akan menilai siapa calon wali kota yang layak dari PAN,” jelasnya.

Melalui acara diskusi media ini ia juga meminta untuk mengikuti proses ini bahwa akan ada keterbukaan soal penjaringan calon yang akan dibuat sehingga kita mengetahui “track record” dan prosesnya.

“Bicara patriot kita sebagai warga kota Bekasi kota patriot kalau dulu para pemimpin kita berjuang angkat senjata karena pemberani kalo sekarang kita terjemahkan keberanian seorang pemimpin dalam mengambil kebijakan misalnya soal penganggaran, usulan atau program program pembangunan dan permasalahan,” ujarnya.

Kemampuan seorang pemimpin, kata Afrizal bukan saja dia visioner tapi juga mampu menjadi problem solver bagi setiap permasalahan yang muncul. “Kalau dulu patriot itu berani, rela berkorban dan pantang menyerah demi bangsa dan negara,” tukasnya.

Membangun kepemimpinan ini, kata Afrizal harus terus digaungkan baik oleh peran media maupun masyarakat jika yang kita inginkan adalah pemimpin yang patriotis dan punya daya keteladanan

“Kita di kota Bekasi ini 10 tahun terakhir ini punya rekam jejak yang kurang bagus yang harus kita akui. 2011 kota Bekasi dibikin malu karena pemimpinnya, kemudian belum lama ini tahun 2022 seperti itu juga. Oleh karenanya membangun ini benar benar menjadi catatan kita terutama membangun pemimpin atau kepala daerah, karena tidak sembarangan dan saya sangat menyambut baik acara ini dan saya berharap diskusi ini terus digaungkan lebih besar lagi jangan sampai besok kita salah pilih lagi,” tegasnya.

Bukan hanya di level eksekutif tapi juga di legislatif, bisa dilihat mana anggota dewan yang punya manfaat bagi lingkungan atau daerahnya baik dewan yang ada di pusat, provinsi dan kota/kabupaten “Kita lihat saat mereka menjadi dewan bermanfaat atau tidak buat kota Bekasi, itu ukurannya. Kalau kita mau membangun saran saya kepada media punya rekam jejak anggota dewan yang sudah terpilih, jangan sampai masyarakat ini dibodohi seperti beli kucing dalam karung,” ujarnya.

“Kita diberikan rasa keadilan, keadilan di dalam memilih dan keadilan dalam mendapatkan informasi informasi yang benar, informasi itu bukan fitnah namun fakta. Selama 5 tahun dewan itu ngapain aja, ada gak aspirasinya, nah itu yang harus di evaluasi menyeluruh. Kalau memang dia berbuat maka dia layak dipilih lagi,” pungkasnya. (Denis)