Porseni Madrasah Se-Bekasi Utara dan Medansatria Memperebutkan Piala Bergilir Dewan Ahmad Ushtuchri

LINGKARBEKASI.COM – Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Madrasah Ibtidaiyah (MI) tingkat kota Bekasi merupakan gabungan dari kelompok kerja Madrasah Ibtidaiyah Bekasi Utara dan Medansatria yang beranggotakan 34 Madrasah Ibtidaiyah.

Porseni ini adalah perlombaan prestasi siswa bidang Tahfiz, pidato, senam dan seni budaya Islam qasidah di mana para guru madrasah terlibat di dalamnya bersama dengan perwakilan dari Kemenag BBKMI, Pokja Madrasah Ibtidaiyah Bekasi Utara.

“Alhamdulillah acara berlangsung meriah dalam pembukaan yang diikuti sekitar 600 siswa plus official guru dan kepala sekolah di Ponpes Annur di rumah Kanzus Sholawat openingnya,” ujar Pimpinan Ponpes An-nuur Bekasi Utara, Ahmad Ushtuchri, Selasa (14/6/2022).

Acara kemudian dilanjutkan dengan beberapa venue di lapangan basket untuk senam dan DOL Annur, dilanjutkan dengan Tahfiz di aula Madrasah Ibtidaiyah untuk qasidah sementara lomba pidato di rumah kayu Kanzus Sholawat.

Event ini memperebutkan piala bergilir Ahmad Ushtuchri selaku anggota DPRD dan event ini juga akan diselenggarakan secara rutin, bagian dari ajang ekspresi siswa-siswi madrasah dalam berkompetisi meraih prestasi terbaik serta mengekspresikan pemahaman softskill mereka dalam hal yang sudah didapat di sekolah.

“Saya berharap dari sini akan timbul bakat para dai, hafidz Hafidzah, seni budaya Islam serta ajang mencari bibit- bibit olahraga dan yang tak kalah penting ini menjadi ajang silaturrahim akbar para aktivis madrasah khususnya di Bekasi Utara dan Medansatria,” lanjutnya.

“Saya berharap pemkot Bekasi melihat ini sebagai sebuah potensi yang belum banyak terjamah karena madrasah ini rata-rata mandiri dari oleh dan untuk masyarakat,” tambahnya.

Momentum Undang-undang yang baru Perda pesantren, kata Ushtuchri sudah disahkan dan segera diimplementasikan dalam bantuan baik untuk meningkatkan sarana dan prasarana dan juga kesejahteraan para guru madrasah.

“Kita tahu madrasah ini menjadi cikal bakal pendidikan modern yang sekarang menjamur menjadi sekolah dasar negeri dan seterusnya. Ketika negara belum mampu menyelenggarakan pendidikan maka madrasah dan para guru madrasah, ustadz kampung inilah yang menjadi penyelamat generasi bangsa,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata Ushtuchri, negara wajib hadir membela, melakukan afirmasi, memperlakukan sama sistem pendidikan lain. Bahkan madrasah kita tahu sangat unggul karena tidak hanya pelajaran umum namun juga ada pelajaran agama.

“Apalagi lulusannya sekarang luar biasa bisa diterima di perguruan-perguruan tinggi di tanah air UGM UNPAD dll bahkan di luar negeri lulusan madrasah menjadi pemenang olimpiade di tingkat nasional maupun internasional,” katanya.

“Jadi tidak boleh ada lagi stigma madrasah ini anak tiri atau sistem pendidikan yang setengah informal dan saya kira stigma itu sudah harus hilang dan pemerintah wajib memperhatikan keberadaan madrasah bahkan terus mendukung dan mengembangkan eksistensinya,” tukasnya. (Denis)