Dinkes Kota Bekasi Sebut Kasus DBD Capai 1729, Renggut Nyawa 11 Orang

LINGKARBEKASI.COM – Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Nia Aminah Kurniati menyatakan data kasus DBD pertanggal 8 Juli di kota Bekasi telah mencapai 1729 kasus, tersebar di beberapa kecamatan. Hal tersebut ia katakan dalam acara diskusi publik komunitas media online indonesia (Komodo) di Balelo Food Garden, Margahayu, Bekasi Timur Jum’at (8/7/2022).

“Yang meninggal ada 11 orang. Tertinggi itu ada di Bekasi Utara, Bekasi Timur dan Bekasi Barat. Keempat Mustikajaya, Kelima Bekasi Selatan. Jadi ini memang harus kita antisipasi terutama kita harus menjaga PHBS pola hidup bersih dan sehat di masyarakat dan di lingkungan,” ujarnya.

Menurutnya, jentik nyamuk DBD itu senang berada di media air bersih. Misalnya tempayan tempat minum, belakang kulkas, bekas tetesan air AC, ban- ban bekas, dispenser dan lain-lain.

Soal DBD ini, kata Nia sudah ada program Dinkes berupa fogging, penyuluhan dalam dan luar gedung, gerakan serentak PSN, kader P2P, hingga pemberian insektisida.

“Selanjutnya kita ada kegiatan pemantauan jentik pada tahun 2022 . Kita sudah lakukan di puskesmas. Kita langsung turun ke masyarakat. Kita
Ke rumah-rumah warga juga kunjungan Ke rumah pasien DBD. Kita lihat airnya ada jentik tidak. Dan kalau tidak dikuras, telur masih ada jentik. Ini yang perlu kita edukasi ke Masyarakat. Harus 3 M,” katanya.

Pencegahan kasus DBD ini bisa dilakukan melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3 M Plus. Kegiatan Kegiatan 3M ini meliputi pertama, menguras (membersihkan) tempat penampungan air, Kedua, menutup rapat Tempat Penampungan Air (TPA).Ketiga, menyingkirkan atau mendaur ulang barang bekas.

“Plus menjadi Juru pemantau jentik (Jumantik) mandiri di rumah masing-masing, pemberian larvasida seperti Abate untuk mencegah jentik nyamuk, kita sudah laksanakan di semua Puskesmas. Selanjutnya PSN di seluruh wilayah alhamdulillah sudah mulai berjalan,” katanya.

Bahkan PLT wali kota pun telah mengimbau masyarakat melakukan aksi K3 di hari Jumat. Karena upaya
fogging bukan satu satunya cara mencegah jentik nyamuk, Karena nyamuk dewasa mati, telur dan jentik masih ada.

“Kalau fogging harus disurvei dulu oleh puskesmas. Resistensi insektisida terhadap kekuatan nyamuk. Bisa saja mereka bertambah kekebalannya. Saat fogging.
Kita juga pelajari nyamuk ini. Karena basic saya bukan dari kesehatan. Jadi ini yang membidangi yang meneliti ini,” ujarnya.

Yang terpenting kata Nia terlaksananya deteksi dini di masyarakat.

“Kader jumantik jumlahnya 4534 orang. Diharapkan satu rumah ada kader jumantik sendiri. Memeriksa rumah masing-masing,” katanya.

Untuk program tahun 2022, sudah dilaksanakan validasi data DBD di 47 puskesmas kota Bekasi.

Adapun untuk upaya penyembuhan, Nia menyatakan gejala DBD yang umum adalah demam mencapai 40 derajat Celcius, muka memerah, mual muntah, nyeri badan, mimisan, gusi berdarah

“Fase demam: demam tinggi 40 derajat, nyeri seluruh tubuh, sakit kepala, mual muntah. Fase bahaya, saat suhu tubuh turun, padahal itu masa kritis. Muntah, mimisan, nyeri perut.
Untuk Fase penyembuhan: kembali demam, namun trombosit berangsur normal,” ujarnya.

Oleh karena itu dirinya mengimbau agar masyarakat bisa gotong royong cegah DBD dengan 3M, bebersih lingkungan dan memasang kawat nyamuk di ventilasi udara atau jendela.

“Jangan bilang peduli DBD kalau belum jadi Jumantik di rumah sendiri.
Kita harus gotong royong,” tambahnya.

Kalau ada kasus DBD, kata Nia silakan masyarakat memeriksakan diri ke puskesmas. Misalnya sudah demam selama 3 hari.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan, dan Penganggulangan Penyakit (P2P), Dinkes Kota Bekasi, Vevi Herawati menyatakan yang harus diperhatikan jika angka Case Fatality Rate (CFR) DBD kota Bekasi masih di bawah 1 persen.

“Di 2022 kita di angka 0.6 persen. 11 kasus kematian dari 1700-an kasus.
Kita waspadai tetap. Jadi Ini pencegahan dan pengendalian DBD adalah tanggung jawab kita bersama. Pemerintah dan masyarakat. Seluruhnya punya tanggung jawab karena kita punya peran di masing-masing,” kata dr Vevi saat dihubungi.

dr Vevi menyatakan, nyamuk itu punya siklus hidup 10 hari dari jentik menuju nyamuk dewasa.

“Untuk mencegah nyamuk, Minimal seminggu sekali ada kegiatan bersih bersih lingkungan atau kerja bakti. Jadi si jentik belum sampai dewasa sudah diberantas. Kenapa Jumantik efektif di satu rumah satu orang? Karena kalau di rumahnya sendiri pasti lebih paham. Tempat tempat perindukan nyamuk di mana saja. Memang ngamuk DBD itu senangnya di air bersih,” ucapnya.

Diakuinya, angka kasus dari 2021 sampai sekarang, lebih tinggi saat ini karena baru setengah tahun sudah ada 11 kasus kematian akibat DBD.

“Biasanya kalau DBD itu ada polanya. Ada di musim penghujan. Di kota Bekasi kalau melihat polanya Januari-Maret kasusnya naik. Juli biasanya sudah turun. Kita berharap setengah tahun mudah-mudahan cuma sampai sini.
Biasanya. Naik lagi awal tahun berikutnya. Trennya. Januari itu rendah, Juli -Desember turun. Kalau melihat polanya. Mudah-mudahan sih terus turun,” tukasnya. (Denis)