Oleh : Desi Nurjanah, S.Pd
(Aktivis Muslimah)

Ada jerit yang tak terdengar telinga dunia. Ada tangis yang membeku di tenggorokan satu juta anak Gaza. Ada bahasa yang dirampas paksa dari mulut mungil mereka, bukan oleh takdir, tapi oleh dentuman bom yang jatuh tanpa henti di Gaza, Palestina. Kota itu tak lagi butuh data korban. Sebab hari ini, satu juta anaknya telah menjadi bisu. Dibungkam trauma, dipaksa menelan jeritnya sendiri di tengah reruntuhan yang dulu mereka sebut rumah.
Psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, usai kembali dari Gaza menyampaikan bahwa setiap anak Gaza mengalami trauma. Lebih dari satu juta anak menderita trauma parah akibat agresi yang tak kunjung berhenti. Salah satu dampak paling pilu: anak-anak Gaza kehilangan kemampuan berbicara. Mulut mereka terkunci bukan karena bisu sejak lahir, tapi karena jiwa mereka dicabik ketakutan, bom, dan pemandangan mayat yang bergelimpangan setiap hari. (Kompas)
Bahasa Dirampas dari Mulut Anak-anak Gaza
Ini bukan angka di laporan PBB. Ini wajah anak-anak Palestina yang tiba-tiba diam seribu kata. Jika kemarin masih memanggil “Ummi”, hari ini hanya menatap kosong dengan mata sayu. Trauma telah merampas bahasa mereka. Dalam dunia psikologi, ini disebut traumatic mutism: kondisi saat jiwa menolak bersuara karena beban derita melampaui ambang kata.
Bayangkan saja! Anak-anak yang seharusnya belajar mengeja huruf dan menghafal doa, kini hanya bisa gemetar tiap mendengar suara drone. Yang seharusnya berlarian di halaman sekolah, kini tubuhnya kaku tiap sirine meraung. Gaza bukan lagi kota, Gaza adalah ruang duka terbuka. Tempat satu generasi dipaksa tumbuh dengan memori darah dan reruntuhan.
Allah sudah memperingatkan tentang kerusakan yang ditimbulkan tangan manusia:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.”
(Q.S. Ar-Rum: 41)
Kerusakan di Gaza hari ini bukan bencana alam. Ini 100% perbuatan tangan manusia. Dan satu juta anak bisu adalah saksi hidupnya. Mereka dipaksa menelan jerit mereka sendiri.
Genosida Senyap: Membunuh Masa Depan
Derita sunyi yang dialami anak-anak Gaza adalah wajah asli genosida. Genosida tak selalu soal pembantaian massal dalam sehari. Konvensi PBB tentang Genosida Pasal II menyebut salah satu bentuknya adalah “menimbulkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota kelompok”.
Dan inilah yang terjadi. Anak-anak Gaza tidak hanya dibunuh. Mereka dibiarkan hidup dengan jiwa yang mati. Dibiarkan tumbuh dengan memori mayat, darah, dan reruntuhan sebagai tontonan harian. Ini skenario jangka panjang: menghancurkan satu generasi agar 20 tahun ke depan tak ada lagi yang meneriakkan kebenaran tentang Al-Quds.
Rasulullah SAW bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.”
(H.R. Muslim)
Hari ini satu anggota tubuh umat manusia itu sedang sekarat. Namanya Gaza. Tapi berapa banyak dari kita yang benar-benar demam dan tidak bisa tidur karenanya? Atau kita sudah mati rasa karena berita duka ini datang setiap hari?
Hukum Internasional Lumpuh
Dunia menyaksikan, tapi tak mampu menghentikan. Resolusi Dewan Keamanan PBB lumpuh oleh veto. Kecaman internasional menguap jadi headline 24 jam. Bantuan kemanusiaan yang masuk hanya secuil, bahkan sering tertahan di perbatasan Rafah. Konvensi Jenewa yang mewajibkan perlindungan warga sipil dan anak-anak dalam konflik bersenjata seolah jadi kertas tak berguna.
Entitas Zionis melenggang di atas hukum internasional karena ada negara adidaya yang menjadi bemper politiknya. Sementara lembaga-lembaga dunia tak punya taring untuk menindak. Anak-anak Gaza akhirnya jadi korban dari rapuhnya sistem internasional yang katanya menjunjung HAM.
Lebih perih lagi: negeri-negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia pun tak mampu berbuat banyak. Punya suara di PBB, punya kekuatan ekonomi, tapi langkahnya tak sebanding dengan derasnya darah yang tumpah. Diam terhadap kezaliman adalah bentuk keberpihakan. Dan hari ini, dunia sedang berpihak pada pembiaran.
Butuh Persatuan dan Tekanan Politik Nyata
Kenapa anak-anak Gaza bisa dibiarkan bisu massal? Kenapa bom bisa jatuh tanpa ada kekuatan yang menghentikan? Karena hari ini tidak ada satu pun kekuatan global yang berani berdiri dan berkata: “Cukup. Hentikan serangan ke Gaza. Mereka harus dilindungi.”
Sejarah membuktikan, perdamaian butuh kekuatan penyeimbang. Butuh satu suara yang disegani agar penjajahan tidak semena-mena. Hari ini kekuatan itu tercerai berai. Umat yang jumlahnya 2 miliar lebih terpecah dalam 57 negara. Punya tentara, tapi untuk menjaga perbatasannya masing-masing. Punya kekayaan, tapi untuk kepentingan nasionalnya sendiri. Akibatnya, Gaza berjuang sendirian.
Maka derita sunyi ini harus jadi alarm. Bahwa pembebasan Palestina bukan sekadar urusan donasi atau doa. Butuh persatuan. Butuh tekanan diplomatik yang nyata dari seluruh dunia. Butuh boikot ekonomi yang konsisten, embargo senjata, dan pemutusan hubungan diplomatik dengan penjajah sebagai pesan politik yang tegas.
Sebab tanpa persatuan dan kekuatan politik, jerit anak Gaza hanya akan jadi berita lalu, lantas hilang ditelan siklus berita berikutnya.
Akhiri Derita Anak-anak Gaza
Wahai ibu di Gaza yang memeluk anaknya yang bisu. Wahai ayah yang menggali kubur untuk bayinya sendiri. Maafkan kami yang hanya bisa menulis dan mengecam.
Tugas kita hari ini adalah memastikan kita ada di barisan yang peduli. Dengan pena, dengan lisan, dengan harta, dengan doa, dan dengan mendesak para pemimpin dunia untuk bertindak nyata. Agar kelak, tidak ada lagi anak Gaza yang dipaksa menelan jeritnya sendiri.
Pertanyaannya bukan lagi “kapan Gaza merdeka?”. Tapi: sampai kapan dunia rela membiarkan anak-anak kehilangan suaranya?
Derita anak-anak Gaza harus segera diakhiri, negri Palestina harus segera dibebaskan dari penjajahan Israel. Harus ada negera Islam yang sadar akan pentingnya pembebasan Palestina, serta persatuan kaum muslimin di seluruh dunia.




