PKS Ajak Kampus Kaji Isu LGBT secara Objektif dan Multidisipliner

LINGKARBEKASI.COM – JAKARTA – Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPP PKS, Dr. Eko Yuliarti Siroj, menyampaikan keprihatinannya terhadap narasi yang disampaikan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) yang menyebut homoseksualitas sebagai sesuatu yang normal dan bukan penyimpangan.

Menurut Eko, perguruan tinggi merupakan ruang lahirnya pemikiran ilmiah yang semestinya menghadirkan kajian yang utuh, objektif, dan bertanggung jawab. Karena itu, isu yang menyangkut manusia, keluarga, dan masa depan peradaban tidak seharusnya dipandang hanya dari satu sudut pandang.

“Sebagai seorang muslim, kami meyakini bahwa nilai-nilai kehidupan tidak hanya ditentukan oleh kesepakatan manusia yang dapat berubah mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga berpijak pada tuntunan Allah SWT sebagai Pencipta manusia yang paling mengetahui fitrah, kebutuhan, dan jalan terbaik bagi kehidupan manusia,” ujar Eko di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Eko menegaskan bahwa kebebasan akademik harus berjalan seiring dengan tanggung jawab moral dan intelektual. Menurutnya, setiap narasi yang disampaikan kepada publik, terlebih oleh institusi akademik, hendaknya memberikan ruang bagi beragam perspektif, termasuk perspektif agama, budaya Indonesia, kesehatan masyarakat, serta dampaknya terhadap ketahanan keluarga.

Ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan temuan-temuan dalam bidang kesehatan masyarakat. Menurutnya, sejumlah penelitian epidemiologi menunjukkan adanya tantangan kesehatan yang perlu menjadi perhatian. Ia menyebut data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang menunjukkan bahwa kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL) memiliki risiko infeksi HIV dan sejumlah penyakit menular seksual yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Menurut Eko, temuan tersebut merupakan bagian dari diskursus kesehatan masyarakat yang tidak boleh diabaikan dalam penyusunan materi edukasi.

Selain aspek kesehatan, Eko mengajak dunia akademik mengkaji secara lebih komprehensif berbagai implikasi sosial, psikologis, budaya, serta ketahanan keluarga. Menurutnya, isu orientasi seksual tidak cukup dibahas hanya dari perspektif penerimaan sosial, tetapi juga perlu mempertimbangkan nilai-nilai agama, norma budaya bangsa, serta tujuan pembangunan keluarga sebagai fondasi masyarakat Indonesia.

“Kampus memiliki tanggung jawab besar dalam membangun tradisi berpikir kritis. Karena itu, setiap isu yang sensitif hendaknya dikaji secara utuh dengan menghadirkan berbagai perspektif ilmiah, sosial, budaya, hukum, dan agama, sehingga mahasiswa memperoleh pemahaman yang seimbang dan tidak parsial,” ujarnya.

Eko berharap seluruh sivitas akademika terus menjaga tradisi akademik yang objektif, terbuka terhadap dialog ilmiah, serta tetap menghormati nilai-nilai Pancasila, konstitusi, dan karakter religius masyarakat Indonesia. Menurutnya, perbedaan pandangan seharusnya menjadi ruang untuk memperkaya kajian ilmiah, bukan menghilangkan perspektif yang hidup dan diyakini oleh masyarakat.

Whatsapp Share Post Telegram
Exit mobile version